Selasa, 07 Januari 2014

Sangat Menyesal, Jeongmal Mianhae



Sungguh Menyesal
Jeongmal Mianhae

“Saat aku merasa sedih, aku pergi ketempat yang sunyi untuk merenung dan menangis sejadinya, hehe.” Begitu ucapan Kim Hwan Do pada sahabatnya Park Hye In.
“Dimana tempat sunyi itu?”
“Hmm mengapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tidak akan sedih kok, karena ada aku disisimu. Aku tidak akan membuat kamu sedih.”
            Kim Hwan Do dan Park Hye In adalah sahabat yang baik semenjak mereka masih kecil, bahkan orang tua mereka pun sangat akrab. Dan jarak rumah mereka pun berdekatan.
Keesokan harinya dimalam hari yang sangat dingin ...
“Kamu mau kemana?” tanya Hwan Do pada Hye In.
“Aku? Aku mau mencari tempat yang sunyi!.”jawab Hye In dengan nada suara agak meninggi.
“Boleh aku ikut?”
Hye In tidak menjawab pertanyaan Kim Hwan Do lalu ia segera pergi dari hadapannya.
Kim Hwan Do POV
Apa yang terjadi dengannya? Mengapa dia tidak menjawab pertanyaaku? Mungkin dia lagi butuh waktu untuk sendiri dan tanpa aku sebagai sahabatnya. Namun aku sangat cemas dengan kepergiannya yang memasang raut wajah murung dan tampaknya sangat sedih sekali. Apa aku harus mengikutinya? Aku takut sesuatu terjadi padanya.
Park Hye In POV
Aku tidak menyangka kalau sahabat baikku akan meninggalkanku. 2 hari lagi dia akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya. Mengapa dia tidak memberitahuku? Sahabat yang jahat. Aku benci dengannya.

                Mobil yang dikendarai Park Hye In melaju sangat cepat, bahkan Hye In sendiri pun tidak bisa mengendalikannya. Hye In merasa dirinya sedang hilang kesadaran. Tiba-tiba ponselnya berdering, ketika Hye In hendak mengambil ponselnya namun ponsel tersebut pun jatuh. Hye In segera mengambil ponsel itu tapi ia takut akan membahayakan keselamatannya, karena posisinya sekarang sedang mengemudi. Akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikan ponsel itu.
Kim Hwan Do POV
Apa yang sedang Hye In lakukan? Mengapa panggilanku tidak dia jawab? Ini sungguh aneh, sebaiknya aku harus mencarinya. Ini sudah larut, aku tidak akan membiarkannya terjadi apa-apa. Akan kucari keberadaannya melalui GPS.

            Saat Hye In melihat sebuah bukit, ia berniat untuk merenung disana dan mengeluarkan kesedihannya disana. Namun sesuatu terjadi pada mobilnya. Mobil yang ia kendarai tidak bisa diberhentikan, remnya blong. Hye In sungguh panik. Benar-benar panik!
“Mengapa? Kenapa dengan remnya? Mengapa tidak mau berhenti?” gerutu Hye In yang sedang kepanikan.
Hye In hanya bisa menangis dan meringkuk ketakutan didalam mobilnya. Ia ingin keluar dari mobil itu, namun sitbelt nya terasa macet dan susah untuk dilepas. Kini Hye In pasrah. Tiba-tiba ia mendengar beberapa kali suara klakson mobil, saat Hye In ingin melihatnya, namun lampu didepannya sangat menyilaukan dan akhirnya terjadilah sebuah tabrakan hebat antara mobil Hye In dengan truk berukuran besar.
“Kini semuanya berakhir. Selamat tinggal dunia! Selamat tinggal mama, papa! Selamat tinggal Kim Hwan Do!.” Seru Hye In kesakitan.
Keramaian terjadi disekitar mobil Park Hye In dan truk besar itu. Mobil polisi mengelilingi mobil Hye In dan ambulance segera berdatangan untuk mengevakuasi korban kecelakaan itu.
Kim Hwan Do POV
Ada apa yang terjadi disana? Begitu ramai sekali. Namun GPS ini menunjukan bahwa keberadaan Hye In ada diantara keramaian itu. Apa mungkin Hye In melihat keramaian itu?
Kim Hwan Do bergegas turun dari mobilnya dan melihat penyebab keramaian itu.
Tiba-tiba, Hwan Do melepaskan GPS yang berada digenggamannya.
“Park Hye In !!!” teriak Hwan Do panik sambil meneteskan banyak air mata.
Saat dirumah sakit, tepatnya diruang UGD ...
Orangtua Hye In dan Hwan Do pun datang bersamaan dan segera menghampiriku yang sedang duduk terkujur kaku dilantai.
“Apa yang terjadi? Mengapa bisa terjadi Hwan Do?” tanya orangtua Hye In dengan sangat khawatir.
“Aku tak tahu” begitu jawabku seadanya.
Dokter pun keluar dari ruang UGD dan hendak memberitahukan sesuatu. Kami segera mendekati dokter itu untuk meminta pernyataannya.
“Ini sangat memprihatinkan. Luka pasien sungguh parah. Dia harus segera dioperasi, kalau terlambat sedetik saja, nyawanya akan melayang.”  Begitu pernyataan sang dokter.
Kami yang mendengarnya langsuung menangis.
“Lakukan apapun yang terbaik ya dok untuk putri kami.” Pinta orangtua Hye In.
“Baik, akan kami lakukan semampu kami.”
Park Hye In POV
Kini aku sangat senang karena aku sudah berada ditempat yang sangat sunyi. Namun aku tidak tahu ada berada dimana sekarang, aku butuh ketenangan. Aku akan mencurahkannya disini, ditempat ini! Apakah aku harus kembali bersama orangtuaku atau tetap berada ditempat yang sunyi ini? Aahh aku tidak butuh jawaban itu sekarang, yang aku butuh hanya sebuah ketenangan. Yaa sebuah ketenangan!.
5 bulan berlalu ...
“Yeobseo..” jawab Hwan Do kepada seseorang yang meneleponnya.
 “Hwan Do apakabarmu disana? Hey, kuliahmu lancar, kan?” tanya ibu Hwan Do yang berada jauh dari anaknya.
“Ya ibu, aku baik. Kuliahku juga lancar. Ibu tak perlu khawatir.”
“Oh iya bu, bagaimana keadaan Hye In? Apakah dia sudah sadar dari komanya?” sambung Hwan Do.
“Hye In? Dia sudah sadar seminggu yang lalu. Namun keadaannya masih agak kurang baik.”
“Yang benar? Hye In sudah sadar? Syukurlah. Kenapa ibu tidak memberitahuku? Kenapa ibu baru memberitahuku sekarang?”
“Maafkan ibu, Hwan Do. Ibu tidak ingin mengganggu belajar kamu. Sekali lagi ibu menyesal.”
“Kalau begitu, aku akan pulang besok, untuk menemui Hye In.”
“Tapi kuliahmu bagaimana?”
“Aku akan izin dulu, yang terpenting aku harus melihat kondisi Hye In. Oke bu sudah dulu ya, Hwan Do harus segera berangkat ke kampus. Bye.”
Belum ibunya menjawab salam perpisahannya, Hwan Do sudah menutup teleponnya.
Kim Hwan Do POV
Setelah sekian lama aku menunggu kamu sadar, akhirnya kamu sadar juga dari tidur panjangmu. Aku tidak sabar ingin melihatmu. Park Hye In, tunggu aku yaa!.
Park Hye In POV
Sebenarnya aku sangat mengharapkanmu untuk menemuiku, melihat kondisiku. Namun itu hanya keinginanku saja. Mungkin kamu sudah menemukan cintamu. Hah? Apa mungkin aku menyukainya? Ah tidak, aku tidak boleh menyukainya. Aku dan Hwan Do hanya bersahabat, tidak lebih. Aku harus menghargai persahabatan ini.
“tok tok tok ...”
Seseorang disana mengetuk pintu kamar Hye In. Ia berharap itu Hwan Do, atau kabar tentang Hwan Do.
“Ibu..” serunya.
“Hey putriku. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik?” tanya ibu Hye In yang sangat perhatian padanya.
“Iya bu, aku merasa sudah agak membaik.”
“Eumm.. tadi ibu Hwan Do bilang sama ibu, kalau besok Hwan Do akan pulang ke Seoul untuk melihat kondisimu.” Jelas ibu pada putrinya.
Aku yang mendengarnya tersentak kaget.
“Hah? Benar bu? Aku senang sekali ia akan kesini, aku merindukannya.”
Ibu hanya tersenyum tipis melihat tanggapan darinya.

Keesokan paginya..
Saat aku membuka mata dari tidurku, tiba-tiba seseorang menyapaku.
“Selamat pagi Nona.” Begitu sapa orang itu.
Park Hye In segera mengucek-ngucek mata dan memastikan siapa orang yang menyapanya.
Ia terkejut. “Kim Hwan Do!!”
Hwan Do tersenyum senang saat Hye In menyebut namanya.
“Kamu? Kapan kamu kesini? Aku benci denganmu.”
Tanggapan Hye In sangat membuat Hwan Do merasa sedih, mengapa Hye In membenci dirinya?
“Aku kesini sangat pagi sekali, demi melihatmu. Tapi kau malah membenciku. Apa salahku?” balas Hwan Do.
“Karena waktu itu kamu tidak memberitahuku bahwa kamu akan pergi ke Amerika. Sahabat macam apa kamu.”
“sungguh, tentang hal itu. Aku tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba orangtuaku mengatakan bahwa aku harus melanjutkan belajarku di Amerika pada saat kau sedang tidak sadarkan diri. Pada saat kau koma! Bagaimana aku harus mengucapkan salam perpisahan padamu kalau kau sedang tidak sadar diri? Sebenarnya pada saat itu, aku bingung harus memilih yang mana. Apakah aku harus disini menjagamu dan menemanimu atau aku harus pergi belajar di Amerika sesuai perintah orangtuaku. Kalian berdua adalah orang yang aku sayangi.” Cerita Hwan Do panjang lebar.
Hye In yang mendengar pernyataan dari Hwan Do merasa bersalah.
“Maaf, aku menyesal. Sungguh aku tidak tahu tentang hal itu.” Jawab Hye In yang merasa menyesal.
            Ketika mereka sudah berlama-lama bermain, saling bertukar cerita. Merekapun tampak kelelahan dan akhirnya tertidur.
Hwan Do tidak ingin meninggalkan Hye In sendirian, ia akan menemani Hye In.
Pada saat Hwan Do tertidur, Hye In menyempatkan diri untuk menulis sebuah surat. Entah surat apa yang harus ia tulis.

Selesai Hye In menulis surat itu, Lalu Hye In menyimpan surat tersebut dibawah bantalnya. Dan membiarkannya sampai ia meninggal nanti.
Ia pun tertidur dengan lelapnya.
Pada saat pagi harinya, kami bercanda-canda lagi, Park Hye In sungguh senang namun bercampur sedih.
“Aku kedapur dulu ya, ingin mengambilkan sarapan untukmu.” Begitu kata Hwan Do yang sungguh baik padanya.
Gadis itu hanya mengangguk dan membiarkannya pergi.
Pada saat Hwan Do pergi, dada Hye In terasa sesak sekali, ia kesusahan untuk bernafas. Detak jantungnya seakan mau berhenti. Bahkan ia sulit untuk berteriak, seperti ada yang menahannya.
“Kenapa denganku?”gumam gadis itu dalam hati.
Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi.
            Beberapa menit kemudian Hwan Do datang dan ia panik. Pria itu pun segera berteriak minta tolong. Tak lama kemudian orangtua Hye In datang.
“Ada apa Hwan Do?” tanya orangtua Hye In padanya.
“Oom, tante. Apa yang terjadi pada Hye In? Mengapa dia diam saja dan terkujur kaku seperti ini?”
“Hye In, kamu kenapa? Hye In...... bangun nak bangun!” desis sang ibu,
“Ayo kita bawa ke rumah sakit saja.” Sambung sang ayah yang juga ikut panik.
Kami pun bergegas kerumah sakit, Hwan Do juga telah mengabarkan tentang Hye In kepada orangtuanya. Dan mereka juga akan menyusulnya kerumah sakit.
            Setibanya mereka semua di rumah sakit, Hye In langsung dibawa oleh perawat yang ada disana untuk menuju ke ruang Unit Gawat Darurat.
Setelah berlama-lama mereka menunggu, dokter pun keluar dari ruang UGD itu dengan wajah yang sangat murung.
“Maaf, pak, bu. Sepertinya pasien tidak bisa diselamatkan. Karena pada saat dibawa kemari, kondisi pasien sudah tidak bernyawa. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Seru sang dokter.
Kami semua menangis tersedu-sedu, mengapa Hye In meninggalkan kami secepat itu? Diusianya yang masih muda pula?
Kim Hwan Do POV
Mengapa kamu meninggalkanku secepat itu? Apa aku begitu tidak berartinya untukmu? Bahkan aku belum mengungkapkan sesuatu padamu, bahwa aku menyukaimu. Kamu tega sekali padaku. Kamu melukaiku!.
Pemakaman pun telah usai, kini tinggalah Kim Hwan Do seorang diri dimakam gadis yang ia sukai itu. Pria itu terus meneteskan airmata dan segera pulang kerumahnya.
Saat Hwan Do telah sampai dirumahnya, tiba-tiba orangtua Hye In mengunjungi rumah Hwan Do dan mencari keberadaannya. Hwan Do yang pada saat itu sedang mengurung dirinya dikamar tiba-tiba keluar kamar hendak menemui orangtua Park Hye In.
“Ada apa oom, tante?”
“Maaf nak, tadi saat tante sedang membereskan kamar Hye In, tante tidak sengaja menemukan ini dibawah bantalnya. Disitu tertulis untuk kamu. Jadi tante tidak berani untuk membacanya.” Jelas ibu Park Hye In sambil memberikan sebuah surat kepada Hwan Do.
“Terimakasih tante.”
 “Ya, Oom dan tante pulang dulu ya.”
Kim Hwan Do hanya mengangguk seadanya.
Saat pria itu membaca surat dari Hye In, tertulis ...
Untuk Kim Hwan Do
Seoul, 2 Maret 2014.
Kim Hwan Do, aku sangat menyesal telah melakukan hal bodoh. Saat malam itu, aku pergi meninggalkanmu untuk mencari tempat yang sunyi, aku ingin merenung seperti yang biasa kau lakukan saat kau sedang sedih. Aku ingin mencurahkan semua kesedihanku, kesedihan tentang kepergianmu. Aku tidak menyangka bahwa ternyata kamu sendiri tidak tahu menahu tentang kepergianmu untuk belajar di Amerika. Waktu itu aku mendengar orangtuamu dan orangtuaku sedang membicarakan suatu hal diruang keluarga rumahku. Kebetulan pada saat itu aku melihatnya, dan aku berniat mendengarkan secara sembunyi-sembunyi tentang apa yang mereka bicarakan. Sekilas aku mendengar kalau kau ingin disekolahkan diluar negeri, aku sangat stres. Jika kamu pergi dari sisiku, aku akan kesepian. Aku tidak punya sahabat! Maka pada malam hari itu juga aku mengabaikanmu, aku menyesal tidak membiarkanmu ikut denganku ketempat yang sunyi, karena aku tahu kalau kamu bisa menghiburku disana. Tapi disisi lain, aku sangat senang karena kamu tidak ikut denganku dan tidak mengalami sebuah kecelakaan yang teramat sangat menakutkan itu.
            Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tiada, aku sudah meninggalkan dunia yang indah ini! Aku sudah meninggalkanmu. Dan yang perlu kamu tahu, sebenarnya aku menyukaimu sejak kita masih kecil. Maaf baru mengatakannya sekarang, karena aku takut kalau aku akan mengganggu konsentrasimu dalam belajar. Selamat tinggal Kim Hwan Do, jaga dirimu baik-baik. Aku disini selalu menyayangimu.

Sahabatmu,
Park Hye In
Kim Hwan Do yang membaca surat itu langsung menangis sejadinya dan beranjak pergi kesebuah tempat yang sunyi untuk meluapkan semuanya.
Kim Hwan Do POV
Baik, aku akan menjaga diri baik-baik dan aku sudah memaafkanmu. Jadi kau juga jangan khawatirkan aku yah. Sebenarnya aku juga menyukaimu, tapi aku butuh waktu untuk menyatakannya. Saat aku ingin mengatakannya, kamu malah pergi meninggalkan aku. Aku sangat kecewa, namun aku bahagia karena kamu sudah berada jauh disana dan tidak merasa sedih lagi. Aku juga sayang kamu!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar