Sungguh Menyesal
Jeongmal Mianhae
“Saat aku merasa
sedih, aku pergi ketempat yang sunyi untuk merenung dan menangis sejadinya,
hehe.” Begitu ucapan Kim Hwan Do pada sahabatnya Park Hye In.
“Dimana tempat
sunyi itu?”
“Hmm mengapa kamu
bertanya seperti itu? Kamu tidak akan sedih kok, karena ada aku disisimu. Aku
tidak akan membuat kamu sedih.”
Kim Hwan Do dan Park Hye In adalah
sahabat yang baik semenjak mereka masih kecil, bahkan orang tua mereka pun
sangat akrab. Dan jarak rumah mereka pun berdekatan.
Keesokan harinya
dimalam hari yang sangat dingin ...
“Kamu mau kemana?”
tanya Hwan Do pada Hye In.
“Aku? Aku mau
mencari tempat yang sunyi!.”jawab Hye In dengan nada suara agak meninggi.
“Boleh aku ikut?”
Hye In tidak menjawab
pertanyaan Kim Hwan Do lalu ia segera pergi dari hadapannya.
Kim Hwan Do POV
Apa yang terjadi
dengannya? Mengapa dia tidak menjawab pertanyaaku? Mungkin dia lagi butuh waktu
untuk sendiri dan tanpa aku sebagai sahabatnya. Namun aku sangat cemas dengan
kepergiannya yang memasang raut wajah murung dan tampaknya sangat sedih sekali.
Apa aku harus mengikutinya? Aku takut sesuatu terjadi padanya.
Park Hye In POV
Aku tidak
menyangka kalau sahabat baikku akan meninggalkanku. 2 hari lagi dia akan pergi
ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya. Mengapa dia tidak memberitahuku?
Sahabat yang jahat. Aku benci dengannya.
Mobil yang dikendarai Park Hye In melaju
sangat cepat, bahkan Hye In sendiri pun tidak bisa mengendalikannya. Hye In
merasa dirinya sedang hilang kesadaran. Tiba-tiba ponselnya berdering, ketika
Hye In hendak mengambil ponselnya namun ponsel tersebut pun jatuh. Hye In
segera mengambil ponsel itu tapi ia takut akan membahayakan keselamatannya,
karena posisinya sekarang sedang mengemudi. Akhirnya ia memutuskan untuk
mengabaikan ponsel itu.
Kim Hwan Do POV
Apa yang sedang
Hye In lakukan? Mengapa panggilanku tidak dia jawab? Ini sungguh aneh,
sebaiknya aku harus mencarinya. Ini sudah larut, aku tidak akan membiarkannya
terjadi apa-apa. Akan kucari keberadaannya melalui GPS.
Saat Hye In melihat sebuah bukit, ia
berniat untuk merenung disana dan mengeluarkan kesedihannya disana. Namun
sesuatu terjadi pada mobilnya. Mobil yang ia kendarai tidak bisa diberhentikan,
remnya blong. Hye In sungguh panik. Benar-benar panik!
“Mengapa? Kenapa
dengan remnya? Mengapa tidak mau berhenti?” gerutu Hye In yang sedang
kepanikan.
Hye
In hanya bisa menangis dan meringkuk ketakutan didalam mobilnya. Ia ingin
keluar dari mobil itu, namun sitbelt nya terasa macet dan susah untuk dilepas.
Kini Hye In pasrah. Tiba-tiba ia mendengar beberapa kali suara klakson mobil,
saat Hye In ingin melihatnya, namun lampu didepannya sangat menyilaukan dan
akhirnya terjadilah sebuah tabrakan hebat antara mobil Hye In dengan truk
berukuran besar.
“Kini
semuanya berakhir. Selamat tinggal dunia! Selamat tinggal mama, papa! Selamat
tinggal Kim Hwan Do!.” Seru Hye In kesakitan.
Keramaian
terjadi disekitar mobil Park Hye In dan truk besar itu. Mobil polisi
mengelilingi mobil Hye In dan ambulance segera berdatangan untuk mengevakuasi
korban kecelakaan itu.
Kim Hwan Do POV
Ada apa yang
terjadi disana? Begitu ramai sekali. Namun GPS ini menunjukan bahwa keberadaan
Hye In ada diantara keramaian itu. Apa mungkin Hye In melihat keramaian itu?
Kim Hwan Do bergegas
turun dari mobilnya dan melihat penyebab keramaian itu.
Tiba-tiba, Hwan Do
melepaskan GPS yang berada digenggamannya.
“Park Hye In !!!”
teriak Hwan Do panik sambil meneteskan banyak air mata.
Saat dirumah
sakit, tepatnya diruang UGD ...
Orangtua Hye In
dan Hwan Do pun datang bersamaan dan segera menghampiriku yang sedang duduk
terkujur kaku dilantai.
“Apa yang terjadi?
Mengapa bisa terjadi Hwan Do?” tanya orangtua Hye In dengan sangat khawatir.
“Aku tak tahu”
begitu jawabku seadanya.
Dokter pun keluar
dari ruang UGD dan hendak memberitahukan sesuatu. Kami segera mendekati dokter
itu untuk meminta pernyataannya.
“Ini sangat
memprihatinkan. Luka pasien sungguh parah. Dia harus segera dioperasi, kalau
terlambat sedetik saja, nyawanya akan melayang.” Begitu pernyataan sang dokter.
Kami yang
mendengarnya langsuung menangis.
“Lakukan apapun
yang terbaik ya dok untuk putri kami.” Pinta orangtua Hye In.
“Baik, akan kami
lakukan semampu kami.”
Park Hye In POV
Kini aku sangat
senang karena aku sudah berada ditempat yang sangat sunyi. Namun aku tidak tahu
ada berada dimana sekarang, aku butuh ketenangan. Aku akan mencurahkannya
disini, ditempat ini! Apakah aku harus kembali bersama orangtuaku atau tetap
berada ditempat yang sunyi ini? Aahh aku tidak butuh jawaban itu sekarang, yang
aku butuh hanya sebuah ketenangan. Yaa sebuah ketenangan!.
5 bulan berlalu ...
“Yeobseo..” jawab
Hwan Do kepada seseorang yang meneleponnya.
“Hwan Do apakabarmu disana? Hey, kuliahmu
lancar, kan?” tanya ibu Hwan Do yang berada jauh dari anaknya.
“Ya ibu, aku baik.
Kuliahku juga lancar. Ibu tak perlu khawatir.”
“Oh iya bu,
bagaimana keadaan Hye In? Apakah dia sudah sadar dari komanya?” sambung Hwan
Do.
“Hye In? Dia sudah
sadar seminggu yang lalu. Namun keadaannya masih agak kurang baik.”
“Yang benar? Hye
In sudah sadar? Syukurlah. Kenapa ibu tidak memberitahuku? Kenapa ibu baru
memberitahuku sekarang?”
“Maafkan ibu, Hwan
Do. Ibu tidak ingin mengganggu belajar kamu. Sekali lagi ibu menyesal.”
“Kalau begitu, aku
akan pulang besok, untuk menemui Hye In.”
“Tapi kuliahmu
bagaimana?”
“Aku akan izin
dulu, yang terpenting aku harus melihat kondisi Hye In. Oke bu sudah dulu ya,
Hwan Do harus segera berangkat ke kampus. Bye.”
Belum ibunya
menjawab salam perpisahannya, Hwan Do sudah menutup teleponnya.
Kim Hwan Do POV
Setelah sekian
lama aku menunggu kamu sadar, akhirnya kamu sadar juga dari tidur panjangmu.
Aku tidak sabar ingin melihatmu. Park Hye In, tunggu aku yaa!.
Park Hye In POV
Sebenarnya aku
sangat mengharapkanmu untuk menemuiku, melihat kondisiku. Namun itu hanya
keinginanku saja. Mungkin kamu sudah menemukan cintamu. Hah? Apa mungkin aku
menyukainya? Ah tidak, aku tidak boleh menyukainya. Aku dan Hwan Do hanya
bersahabat, tidak lebih. Aku harus menghargai persahabatan ini.
“tok tok tok ...”
Seseorang disana
mengetuk pintu kamar Hye In. Ia berharap itu Hwan Do, atau kabar tentang Hwan
Do.
“Ibu..” serunya.
“Hey putriku.
Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik?” tanya ibu Hye In yang
sangat perhatian padanya.
“Iya bu, aku merasa
sudah agak membaik.”
“Eumm.. tadi ibu
Hwan Do bilang sama ibu, kalau besok Hwan Do akan pulang ke Seoul untuk melihat
kondisimu.” Jelas ibu pada putrinya.
Aku yang
mendengarnya tersentak kaget.
“Hah? Benar bu?
Aku senang sekali ia akan kesini, aku merindukannya.”
Ibu hanya
tersenyum tipis melihat tanggapan darinya.
Keesokan paginya..
Saat aku membuka
mata dari tidurku, tiba-tiba seseorang menyapaku.
“Selamat pagi
Nona.” Begitu sapa orang itu.
Park Hye In segera
mengucek-ngucek mata dan memastikan siapa orang yang menyapanya.
Ia terkejut. “Kim
Hwan Do!!”
Hwan Do tersenyum
senang saat Hye In menyebut namanya.
“Kamu? Kapan kamu
kesini? Aku benci denganmu.”
Tanggapan Hye In
sangat membuat Hwan Do merasa sedih, mengapa Hye In membenci dirinya?
“Aku kesini sangat
pagi sekali, demi melihatmu. Tapi kau malah membenciku. Apa salahku?” balas
Hwan Do.
“Karena waktu itu
kamu tidak memberitahuku bahwa kamu akan pergi ke Amerika. Sahabat macam apa
kamu.”
“sungguh, tentang
hal itu. Aku tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba orangtuaku mengatakan bahwa aku
harus melanjutkan belajarku di Amerika pada saat kau sedang tidak sadarkan
diri. Pada saat kau koma! Bagaimana aku harus mengucapkan salam perpisahan
padamu kalau kau sedang tidak sadar diri? Sebenarnya pada saat itu, aku bingung
harus memilih yang mana. Apakah aku harus disini menjagamu dan menemanimu atau
aku harus pergi belajar di Amerika sesuai perintah orangtuaku. Kalian berdua
adalah orang yang aku sayangi.” Cerita Hwan Do panjang lebar.
Hye In yang
mendengar pernyataan dari Hwan Do merasa bersalah.
“Maaf, aku
menyesal. Sungguh aku tidak tahu tentang hal itu.” Jawab Hye In yang merasa
menyesal.
Ketika mereka sudah berlama-lama
bermain, saling bertukar cerita. Merekapun tampak kelelahan dan akhirnya
tertidur.
Hwan Do tidak ingin
meninggalkan Hye In sendirian, ia akan menemani Hye In.
Pada saat Hwan Do
tertidur, Hye In menyempatkan diri untuk menulis sebuah surat. Entah surat apa
yang harus ia tulis.
Selesai Hye In menulis surat itu, Lalu Hye In menyimpan surat tersebut
dibawah bantalnya. Dan membiarkannya sampai ia meninggal nanti.
Ia pun tertidur dengan lelapnya.
Pada saat pagi harinya, kami bercanda-canda lagi, Park Hye In sungguh
senang namun bercampur sedih.
“Aku kedapur dulu ya, ingin mengambilkan sarapan untukmu.” Begitu kata
Hwan Do yang sungguh baik padanya.
Gadis itu hanya mengangguk dan membiarkannya pergi.
Pada saat Hwan Do pergi, dada Hye In terasa sesak sekali, ia kesusahan
untuk bernafas. Detak jantungnya seakan mau berhenti. Bahkan ia sulit untuk
berteriak, seperti ada yang menahannya.
“Kenapa denganku?”gumam gadis itu dalam hati.
Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi.
Beberapa menit
kemudian Hwan Do datang dan ia panik. Pria itu pun segera berteriak minta
tolong. Tak lama kemudian orangtua Hye In datang.
“Ada apa Hwan Do?” tanya orangtua Hye In padanya.
“Oom, tante. Apa yang terjadi pada Hye In? Mengapa dia diam saja dan
terkujur kaku seperti ini?”
“Hye In, kamu kenapa? Hye In...... bangun nak bangun!” desis sang ibu,
“Ayo kita bawa ke rumah sakit saja.” Sambung sang ayah yang juga ikut
panik.
Kami pun bergegas kerumah sakit, Hwan Do juga telah mengabarkan
tentang Hye In kepada orangtuanya. Dan mereka juga akan menyusulnya kerumah
sakit.
Setibanya mereka
semua di rumah sakit, Hye In langsung dibawa oleh perawat yang ada disana untuk
menuju ke ruang Unit Gawat Darurat.
Setelah berlama-lama mereka menunggu, dokter pun keluar dari ruang UGD
itu dengan wajah yang sangat murung.
“Maaf, pak, bu. Sepertinya pasien tidak bisa diselamatkan. Karena pada
saat dibawa kemari, kondisi pasien sudah tidak bernyawa. Kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya.” Seru sang dokter.
Kami semua menangis tersedu-sedu, mengapa Hye In meninggalkan kami
secepat itu? Diusianya yang masih muda pula?
Kim Hwan Do
POV
Mengapa kamu meninggalkanku secepat itu? Apa aku begitu tidak
berartinya untukmu? Bahkan aku belum mengungkapkan sesuatu padamu, bahwa aku
menyukaimu. Kamu tega sekali padaku. Kamu melukaiku!.
Pemakaman pun telah usai, kini tinggalah Kim Hwan
Do seorang diri dimakam gadis yang ia sukai itu. Pria itu terus meneteskan
airmata dan segera pulang kerumahnya.
Saat Hwan Do telah sampai dirumahnya, tiba-tiba
orangtua Hye In mengunjungi rumah Hwan Do dan mencari keberadaannya. Hwan Do
yang pada saat itu sedang mengurung dirinya dikamar tiba-tiba keluar kamar
hendak menemui orangtua Park Hye In.
“Ada apa oom, tante?”
“Maaf nak, tadi saat tante sedang membereskan
kamar Hye In, tante tidak sengaja menemukan ini dibawah bantalnya. Disitu
tertulis untuk kamu. Jadi tante tidak berani untuk membacanya.” Jelas ibu Park
Hye In sambil memberikan sebuah surat kepada Hwan Do.
“Terimakasih tante.”
“Ya, Oom
dan tante pulang dulu ya.”
Kim Hwan Do hanya mengangguk seadanya.
Saat pria itu membaca surat dari Hye In, tertulis
...
Untuk
Kim Hwan Do
Seoul,
2 Maret 2014.
Kim
Hwan Do, aku sangat menyesal telah melakukan hal bodoh. Saat malam itu, aku
pergi meninggalkanmu untuk mencari tempat yang sunyi, aku ingin merenung
seperti yang biasa kau lakukan saat kau sedang sedih. Aku ingin mencurahkan
semua kesedihanku, kesedihan tentang kepergianmu. Aku tidak menyangka bahwa
ternyata kamu sendiri tidak tahu menahu tentang kepergianmu untuk belajar di
Amerika. Waktu itu aku mendengar orangtuamu dan orangtuaku sedang membicarakan
suatu hal diruang keluarga rumahku. Kebetulan pada saat itu aku melihatnya, dan
aku berniat mendengarkan secara sembunyi-sembunyi tentang apa yang mereka
bicarakan. Sekilas aku mendengar kalau kau ingin disekolahkan diluar negeri,
aku sangat stres. Jika kamu pergi dari sisiku, aku akan kesepian. Aku tidak
punya sahabat! Maka pada malam hari itu juga aku mengabaikanmu, aku menyesal
tidak membiarkanmu ikut denganku ketempat yang sunyi, karena aku tahu kalau
kamu bisa menghiburku disana. Tapi disisi lain, aku sangat senang karena kamu tidak
ikut denganku dan tidak mengalami sebuah kecelakaan yang teramat sangat
menakutkan itu.
Mungkin saat kamu membaca surat ini,
aku sudah tiada, aku sudah meninggalkan dunia yang indah ini! Aku sudah
meninggalkanmu. Dan yang perlu kamu tahu, sebenarnya aku menyukaimu sejak kita
masih kecil. Maaf baru mengatakannya sekarang, karena aku takut kalau aku akan
mengganggu konsentrasimu dalam belajar. Selamat tinggal Kim Hwan Do, jaga
dirimu baik-baik. Aku disini selalu menyayangimu.
Sahabatmu,
Park
Hye In
Kim Hwan Do yang membaca surat itu langsung menangis sejadinya dan
beranjak pergi kesebuah tempat yang sunyi untuk meluapkan semuanya.
Kim Hwan Do
POV
Baik, aku akan menjaga diri baik-baik dan aku sudah memaafkanmu. Jadi
kau juga jangan khawatirkan aku yah. Sebenarnya aku juga menyukaimu, tapi aku
butuh waktu untuk menyatakannya. Saat aku ingin mengatakannya, kamu malah pergi
meninggalkan aku. Aku sangat kecewa, namun aku bahagia karena kamu sudah berada
jauh disana dan tidak merasa sedih lagi. Aku juga sayang kamu!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar