Rabu, 08 Januari 2014

Konsisten Menjalankan Tugas

KONSISTEN MENJALANKAN TUGAS
      “Aduuhh berisik sekali sih, tolong diam!” Teriak Tata pada teman-teman sekelasnya yang kebetulan dikelasnya sedang tidak ada guru karena gurunya sedang ada urusan mendadak. Teman-temannya pun segera menoleh kearah Tata dengan tatapan sinis dan kembali melanjutkan kegiatan yang sedari tadi mereka sedang lakukan, dan keadaan kelas pun kembali gaduh. Tata bingung mengapa teman-temannya tidak menghiraukan perkataannya. “Ini sangat menyebalkan!!” gumam Tata dalam hatinya.
            Biasanya setiap kali Tata mengucap sesuatu hal yang bersifat perintah, teman-temannya pun segera menanggapi dan melaksanakannya, tapi kali ini ia sangat dikucilkan. Tata pun kembali melamun, namun Adzan dzuhur pun berkumandang, Tata bergegas ke musholla yang berada di area sekolahnya dan segera meninggalkan kelasnya yang sangat ribut. “Kamu mau ikut aku ke musholla?” tanya Tata pada salah satu temannya yang bernama Anna yang kebetulan teman dekatnya Tata. “Maaf Ta, aku lagi ngga solat dulu. Hehe kamu tau sendirilah kegiatan rutin perempuan.” Jawab Anna sambil cengar-cengir. “Eumm baiklah aku ke musholla sendiri saja.”Tata bergegas meninggalkan Anna namun Anna kembali memanggilnya. “Eh kenapa kamu ngga ngajak teman-teman yang lain? Barangkali mereka ada yang ingin sholat juga? Kan kamu bisa ada temannya!” Ucap Anna dengan suara yang lemah lembut. “Ah tidak, aku merasa aku sedang dikucilkan oleh mereka. Jadi aku putuskan untuk ke musholla seorang diri saja.” Tata pun pergi.
            Sesampainya Tata di musholla, Tata segera menuju tempat berwudlu yang kebetulan disana sangat ramai sekali namun tidak bising seperti dikelasnya. Satu persatu orang pun selesai berwudlu, kini giliran Tata untuk berwudlu. Selesai ia berwudlu, Tata bergegas ke tempat shalat. Saat ingin memakai mukenah, ada seseorang memegang bahu Tata dan mengucapkan salam kepadanya “Assalamuallaikum” ucap seseorang itu. Tata pun membalas salamnya “Wa’alaikum salam, eh kakak. Aku kira siapa hehe.” Ternyata yang mengucapkan salam itu adalah Kak Ulfa yaitu kakak kelasnya yang kebetulan mantan satu eskul dengan Tata pada saat ia masih eskul Rohis. “Maaf, kakak sudah membuat kamu kaget ya? Aduh maaf sekali, jadi tidak enak nih.” . “Ah tidak kok kak, iya sih sempat kaget tadi. Eum kakak sudah shalat?” tanya Tata pada kakak kelas itu. “Kebetulan sudah nih, kamu?” . “Yah aku belum nih kak, maaf ya kak ngobrolnya kita lanjut sehabis aku shalat saja.” Pinta Tata pada Kak Ulfa. “Hmm iya, baru kakak mau nyuruh kamu buat shalat dulu tapi kamu udah bilang duluan.”Jawab Kakak kelas tersebut. “OK.” .
            Setelah sekitar lima menit berlalu, akhirnya Tata pun selesai shalat dan segera mencari Kak Ulfa untuk menepati janjinya yaitu untuk berbincang-bincang kembali. Namun ia tidak melihat sosok kakak kelasnya itu dan Tata pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Sesampainya Tata didalam kelas, ia pun kembali pusing sebab kali ini teman-teman sekelasnya sangat ribut melebihi yang tadi. “Hey kalian bisa diam ngga sih?! Apa kalian ngga sadar kalau kalian tuh sudah mengganggu teman kalian yang sedang serius belajar ataupun membaca buku? HAH?” bentak Tata dengan raut wajah yang sedikit memerah. “Hey, bukankah kamu termasuk salah satu pengganggunya?” tanya salah satu temannya pada Tata. Tata sangat bingung, mengapa sekarang dirinya yang dipermasalahkan. “Kenapa aku?” tanya Tata yang masih sedikit bingung. “Yaiyalah kamu kan sudah mengganggu kami bersenang-senang, bermain-main, bercanda-canda. HUH!” . “Iya tuh benar. Iya benar”Ucap teman-temannya yang lain.
            Tata merasa kecewa, mengapa dengan teman-temannya, ada apa. “Maaf yah Ta, kami sudah bosan dan risih dengan sikap kamu yang selalu memerintahkan kami dan kami pun mengapa dengan bodohnya menuruti perintahmu. Aiish” gertak salah satu temannya. “Ada apa sih dengan kalian? Kenapa? Atau mungkin karna kalian belum shalat jadinya kalian seperti ini? Dipermainkan oleh syaitan. HAH?!!” balas Tata dangan mata berkaca-kaca hendak menangis namun airmatanya tidak berlinang. Baru kali ini Tata merasa dilecehkan dengan perkataan temannya yang sangat menyakitkan. “Kalo lu mau ceramah dimasjid aja Ta, jangan dikelas ini. Bahas sholat? Lu mending sekolah di madrasah aja atau ngga lu nyantren aja. Hahaha” Ucap temannya dengan sedikit meledek namun agak melenceng. “Apa gunanya sholat. Mending kita hepi-hepi aja haha. Hari gini mikirin akhirat? Dunia aja kacau, ya ngga?!” sambar teman yang lainnya.
            “Kalian ngga pantas bicara seperti itu. Kalian jangan main-main dengan shalat, kalian juga jangan main-main dengan akhirat. kalian ngga tau kan apa akibatnya nanti?Hah? Ngga tau kan? Tapi kalian sudah seenaknya bicara seperti itu. Allah tuh ngga suka kalian bicara seperti itu, lebih baik aku pindah kelas saja bahkan kalau perlu pindah sekolah daripada aku memiliki teman-teman yang berbicara kasar dan tidak dipikir-pikir dulu seperti itu. Apalagi berbicara tentang shalat. Itu termasuk melencengkan agama.” . Teman-teman yang lain pun hanya menunduk. “Baik, aku akan pergi dan meninggalkan kelas ini. Jika itu membuat kalian hepi.” Tata pun keluar dari kelas dan segera pulang kerumahnya.
            Kini giliran Anna yang berbicara didepan teman-temannya. “Hey semua.. apa kalian ngga mikir ya. Apa yang dikatakan Tata itu benar, tidak seharusnya kita berbicara seenaknya tentang agama. Kalian sudah berdosa. Dan apa kalian juga ngga mikir, kalau Tata pindah dari sini, siapa lagi yang akan membanggakan kelas ini dengan prestasi-prestasi? Kalian kan tau sendiri kalau kelas kita sudah dicap jelek, karena apa? Karena ulah kita. Tata sudah berjuang keras agar kelas kita dicap bagus oleh guru-guru, dan akhirnya dengan usaha ia sendiri, ia bisa membanggakan kelas kita dan membuat semua warga sekolah bertepuk tangan kepada kelas kita. Apa kalian ngga mikir? Tata diperlakukan baik saja oleh kalian ia sudah sangat senang. Namun dengan sikap kalian yang seperti tadi, itu sulit untuk dimaafkan.” . Sanggah Anna pada teman-teman sekelasnya.
            “Lantas, apa yang harus kami lakukan? Kami sungguh tidak berpikir kearah sana.” Jawab temannya yang lain. “Setahu ku, Tata itu sangat menghormati agama, bahkan keluarganya sangat paham akan agama. Jadi sangat sulit untuk membuatnya kembali. Eumm kalau mau kalian harus berjanji dulu bahwa kalian akan menjalankan ibadah kalian dengan sungguh-sungguh sesuai agama yang kalian anut. Mungkin Tata akan merasa dihargai dan setelah itu kalian minta maaf pada Tata dan membuktikan kesungguhan kalian itu.” Balas Anna sambil tersenyum. Teman-teman yang lain pun saling berpandangan dan mengangguk-angguk menyatakan bahwa mereka setuju dengan ide yang Anna berikan. “tunggu.. tapi bagaimana kalau Tata tidak akan kembali ke kelas ini lagi?”tanya salah seorang teman Tata dan juga Anna. “Nanti aku akan mencoba menelponnya dan mengatakan semua yang sudah kita rencanakan. Tapi kalian harus janji dulu, dan tidak akan main-main dengan janji kalian itu!.” Pinta Anna. “Baik kami janji” jawab teman-teman serentak.

Akhirnya kelas tersebut pun kembali tentram. Tata pun tak jadi pindah sekolah dan teman-teman yang lain pun dengan sungguh-sungguh menepati janjinya dengan perasaan yang ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar