KONSISTEN
MENJALANKAN TUGAS
“Aduuhh
berisik sekali sih, tolong diam!” Teriak Tata pada teman-teman sekelasnya yang
kebetulan dikelasnya sedang tidak ada guru karena gurunya sedang ada urusan
mendadak. Teman-temannya pun segera menoleh kearah Tata dengan tatapan sinis
dan kembali melanjutkan kegiatan yang sedari tadi mereka sedang lakukan, dan
keadaan kelas pun kembali gaduh. Tata bingung mengapa teman-temannya tidak
menghiraukan perkataannya. “Ini sangat menyebalkan!!” gumam Tata dalam hatinya.
Biasanya setiap kali Tata mengucap
sesuatu hal yang bersifat perintah, teman-temannya pun segera menanggapi dan
melaksanakannya, tapi kali ini ia sangat dikucilkan. Tata pun kembali melamun,
namun Adzan dzuhur pun berkumandang, Tata bergegas ke musholla yang berada di
area sekolahnya dan segera meninggalkan kelasnya yang sangat ribut. “Kamu mau
ikut aku ke musholla?” tanya Tata pada salah satu temannya yang bernama Anna
yang kebetulan teman dekatnya Tata. “Maaf Ta, aku lagi ngga solat dulu. Hehe
kamu tau sendirilah kegiatan rutin perempuan.” Jawab Anna sambil cengar-cengir.
“Eumm baiklah aku ke musholla sendiri saja.”Tata bergegas meninggalkan Anna
namun Anna kembali memanggilnya. “Eh kenapa kamu ngga ngajak teman-teman yang
lain? Barangkali mereka ada yang ingin sholat juga? Kan kamu bisa ada
temannya!” Ucap Anna dengan suara yang lemah lembut. “Ah tidak, aku merasa aku
sedang dikucilkan oleh mereka. Jadi aku putuskan untuk ke musholla seorang diri
saja.” Tata pun pergi.
Sesampainya Tata di musholla, Tata
segera menuju tempat berwudlu yang kebetulan disana sangat ramai sekali namun
tidak bising seperti dikelasnya. Satu persatu orang pun selesai berwudlu, kini
giliran Tata untuk berwudlu. Selesai ia berwudlu, Tata bergegas ke tempat
shalat. Saat ingin memakai mukenah, ada seseorang memegang bahu Tata dan
mengucapkan salam kepadanya “Assalamuallaikum” ucap seseorang itu. Tata pun
membalas salamnya “Wa’alaikum salam, eh kakak. Aku kira siapa hehe.” Ternyata
yang mengucapkan salam itu adalah Kak Ulfa yaitu kakak kelasnya yang kebetulan
mantan satu eskul dengan Tata pada saat ia masih eskul Rohis. “Maaf, kakak sudah
membuat kamu kaget ya? Aduh maaf sekali, jadi tidak enak nih.” . “Ah tidak kok
kak, iya sih sempat kaget tadi. Eum kakak sudah shalat?” tanya Tata pada kakak
kelas itu. “Kebetulan sudah nih, kamu?” . “Yah aku belum nih kak, maaf ya kak
ngobrolnya kita lanjut sehabis aku shalat saja.” Pinta Tata pada Kak Ulfa. “Hmm
iya, baru kakak mau nyuruh kamu buat shalat dulu tapi kamu udah bilang
duluan.”Jawab Kakak kelas tersebut. “OK.” .
Setelah sekitar lima menit berlalu,
akhirnya Tata pun selesai shalat dan segera mencari Kak Ulfa untuk menepati
janjinya yaitu untuk berbincang-bincang kembali. Namun ia tidak melihat sosok
kakak kelasnya itu dan Tata pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
Sesampainya Tata didalam kelas, ia pun kembali pusing sebab kali ini
teman-teman sekelasnya sangat ribut melebihi yang tadi. “Hey kalian bisa diam
ngga sih?! Apa kalian ngga sadar kalau kalian tuh sudah mengganggu teman kalian
yang sedang serius belajar ataupun membaca buku? HAH?” bentak Tata dengan raut
wajah yang sedikit memerah. “Hey, bukankah kamu termasuk salah satu
pengganggunya?” tanya salah satu temannya pada Tata. Tata sangat bingung,
mengapa sekarang dirinya yang dipermasalahkan. “Kenapa aku?” tanya Tata yang
masih sedikit bingung. “Yaiyalah kamu kan sudah mengganggu kami
bersenang-senang, bermain-main, bercanda-canda. HUH!” . “Iya tuh benar. Iya
benar”Ucap teman-temannya yang lain.
Tata merasa kecewa, mengapa dengan
teman-temannya, ada apa. “Maaf yah Ta, kami sudah bosan dan risih dengan sikap
kamu yang selalu memerintahkan kami dan kami pun mengapa dengan bodohnya
menuruti perintahmu. Aiish” gertak salah satu temannya. “Ada apa sih dengan
kalian? Kenapa? Atau mungkin karna kalian belum shalat jadinya kalian seperti
ini? Dipermainkan oleh syaitan. HAH?!!” balas Tata dangan mata berkaca-kaca
hendak menangis namun airmatanya tidak berlinang. Baru kali ini Tata merasa
dilecehkan dengan perkataan temannya yang sangat menyakitkan. “Kalo lu mau
ceramah dimasjid aja Ta, jangan dikelas ini. Bahas sholat? Lu mending sekolah
di madrasah aja atau ngga lu nyantren aja. Hahaha” Ucap temannya dengan sedikit
meledek namun agak melenceng. “Apa gunanya sholat. Mending kita hepi-hepi aja
haha. Hari gini mikirin akhirat? Dunia aja kacau, ya ngga?!” sambar teman yang
lainnya.
“Kalian ngga pantas bicara seperti
itu. Kalian jangan main-main dengan shalat, kalian juga jangan main-main dengan
akhirat. kalian ngga tau kan apa akibatnya nanti?Hah? Ngga tau kan? Tapi kalian
sudah seenaknya bicara seperti itu. Allah tuh ngga suka kalian bicara seperti
itu, lebih baik aku pindah kelas saja bahkan kalau perlu pindah sekolah
daripada aku memiliki teman-teman yang berbicara kasar dan tidak dipikir-pikir
dulu seperti itu. Apalagi berbicara tentang shalat. Itu termasuk melencengkan
agama.” . Teman-teman yang lain pun hanya menunduk. “Baik, aku akan pergi dan
meninggalkan kelas ini. Jika itu membuat kalian hepi.” Tata pun keluar dari
kelas dan segera pulang kerumahnya.
Kini giliran Anna yang berbicara
didepan teman-temannya. “Hey semua.. apa kalian ngga mikir ya. Apa yang
dikatakan Tata itu benar, tidak seharusnya kita berbicara seenaknya tentang
agama. Kalian sudah berdosa. Dan apa kalian juga ngga mikir, kalau Tata pindah
dari sini, siapa lagi yang akan membanggakan kelas ini dengan
prestasi-prestasi? Kalian kan tau sendiri kalau kelas kita sudah dicap jelek,
karena apa? Karena ulah kita. Tata sudah berjuang keras agar kelas kita dicap
bagus oleh guru-guru, dan akhirnya dengan usaha ia sendiri, ia bisa
membanggakan kelas kita dan membuat semua warga sekolah bertepuk tangan kepada
kelas kita. Apa kalian ngga mikir? Tata diperlakukan baik saja oleh kalian ia
sudah sangat senang. Namun dengan sikap kalian yang seperti tadi, itu sulit
untuk dimaafkan.” . Sanggah Anna pada teman-teman sekelasnya.
“Lantas, apa yang harus kami
lakukan? Kami sungguh tidak berpikir kearah sana.” Jawab temannya yang lain.
“Setahu ku, Tata itu sangat menghormati agama, bahkan keluarganya sangat paham
akan agama. Jadi sangat sulit untuk membuatnya kembali. Eumm kalau mau kalian
harus berjanji dulu bahwa kalian akan menjalankan ibadah kalian dengan
sungguh-sungguh sesuai agama yang kalian anut. Mungkin Tata akan merasa
dihargai dan setelah itu kalian minta maaf pada Tata dan membuktikan
kesungguhan kalian itu.” Balas Anna sambil tersenyum. Teman-teman yang lain pun
saling berpandangan dan mengangguk-angguk menyatakan bahwa mereka setuju dengan
ide yang Anna berikan. “tunggu.. tapi bagaimana kalau Tata tidak akan kembali
ke kelas ini lagi?”tanya salah seorang teman Tata dan juga Anna. “Nanti aku
akan mencoba menelponnya dan mengatakan semua yang sudah kita rencanakan. Tapi
kalian harus janji dulu, dan tidak akan main-main dengan janji kalian itu!.”
Pinta Anna. “Baik kami janji” jawab teman-teman serentak.
Akhirnya kelas
tersebut pun kembali tentram. Tata pun tak jadi pindah sekolah dan teman-teman
yang lain pun dengan sungguh-sungguh menepati janjinya dengan perasaan yang
ikhlas.