Rabu, 08 Januari 2014

Konsisten Menjalankan Tugas

KONSISTEN MENJALANKAN TUGAS
      “Aduuhh berisik sekali sih, tolong diam!” Teriak Tata pada teman-teman sekelasnya yang kebetulan dikelasnya sedang tidak ada guru karena gurunya sedang ada urusan mendadak. Teman-temannya pun segera menoleh kearah Tata dengan tatapan sinis dan kembali melanjutkan kegiatan yang sedari tadi mereka sedang lakukan, dan keadaan kelas pun kembali gaduh. Tata bingung mengapa teman-temannya tidak menghiraukan perkataannya. “Ini sangat menyebalkan!!” gumam Tata dalam hatinya.
            Biasanya setiap kali Tata mengucap sesuatu hal yang bersifat perintah, teman-temannya pun segera menanggapi dan melaksanakannya, tapi kali ini ia sangat dikucilkan. Tata pun kembali melamun, namun Adzan dzuhur pun berkumandang, Tata bergegas ke musholla yang berada di area sekolahnya dan segera meninggalkan kelasnya yang sangat ribut. “Kamu mau ikut aku ke musholla?” tanya Tata pada salah satu temannya yang bernama Anna yang kebetulan teman dekatnya Tata. “Maaf Ta, aku lagi ngga solat dulu. Hehe kamu tau sendirilah kegiatan rutin perempuan.” Jawab Anna sambil cengar-cengir. “Eumm baiklah aku ke musholla sendiri saja.”Tata bergegas meninggalkan Anna namun Anna kembali memanggilnya. “Eh kenapa kamu ngga ngajak teman-teman yang lain? Barangkali mereka ada yang ingin sholat juga? Kan kamu bisa ada temannya!” Ucap Anna dengan suara yang lemah lembut. “Ah tidak, aku merasa aku sedang dikucilkan oleh mereka. Jadi aku putuskan untuk ke musholla seorang diri saja.” Tata pun pergi.
            Sesampainya Tata di musholla, Tata segera menuju tempat berwudlu yang kebetulan disana sangat ramai sekali namun tidak bising seperti dikelasnya. Satu persatu orang pun selesai berwudlu, kini giliran Tata untuk berwudlu. Selesai ia berwudlu, Tata bergegas ke tempat shalat. Saat ingin memakai mukenah, ada seseorang memegang bahu Tata dan mengucapkan salam kepadanya “Assalamuallaikum” ucap seseorang itu. Tata pun membalas salamnya “Wa’alaikum salam, eh kakak. Aku kira siapa hehe.” Ternyata yang mengucapkan salam itu adalah Kak Ulfa yaitu kakak kelasnya yang kebetulan mantan satu eskul dengan Tata pada saat ia masih eskul Rohis. “Maaf, kakak sudah membuat kamu kaget ya? Aduh maaf sekali, jadi tidak enak nih.” . “Ah tidak kok kak, iya sih sempat kaget tadi. Eum kakak sudah shalat?” tanya Tata pada kakak kelas itu. “Kebetulan sudah nih, kamu?” . “Yah aku belum nih kak, maaf ya kak ngobrolnya kita lanjut sehabis aku shalat saja.” Pinta Tata pada Kak Ulfa. “Hmm iya, baru kakak mau nyuruh kamu buat shalat dulu tapi kamu udah bilang duluan.”Jawab Kakak kelas tersebut. “OK.” .
            Setelah sekitar lima menit berlalu, akhirnya Tata pun selesai shalat dan segera mencari Kak Ulfa untuk menepati janjinya yaitu untuk berbincang-bincang kembali. Namun ia tidak melihat sosok kakak kelasnya itu dan Tata pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Sesampainya Tata didalam kelas, ia pun kembali pusing sebab kali ini teman-teman sekelasnya sangat ribut melebihi yang tadi. “Hey kalian bisa diam ngga sih?! Apa kalian ngga sadar kalau kalian tuh sudah mengganggu teman kalian yang sedang serius belajar ataupun membaca buku? HAH?” bentak Tata dengan raut wajah yang sedikit memerah. “Hey, bukankah kamu termasuk salah satu pengganggunya?” tanya salah satu temannya pada Tata. Tata sangat bingung, mengapa sekarang dirinya yang dipermasalahkan. “Kenapa aku?” tanya Tata yang masih sedikit bingung. “Yaiyalah kamu kan sudah mengganggu kami bersenang-senang, bermain-main, bercanda-canda. HUH!” . “Iya tuh benar. Iya benar”Ucap teman-temannya yang lain.
            Tata merasa kecewa, mengapa dengan teman-temannya, ada apa. “Maaf yah Ta, kami sudah bosan dan risih dengan sikap kamu yang selalu memerintahkan kami dan kami pun mengapa dengan bodohnya menuruti perintahmu. Aiish” gertak salah satu temannya. “Ada apa sih dengan kalian? Kenapa? Atau mungkin karna kalian belum shalat jadinya kalian seperti ini? Dipermainkan oleh syaitan. HAH?!!” balas Tata dangan mata berkaca-kaca hendak menangis namun airmatanya tidak berlinang. Baru kali ini Tata merasa dilecehkan dengan perkataan temannya yang sangat menyakitkan. “Kalo lu mau ceramah dimasjid aja Ta, jangan dikelas ini. Bahas sholat? Lu mending sekolah di madrasah aja atau ngga lu nyantren aja. Hahaha” Ucap temannya dengan sedikit meledek namun agak melenceng. “Apa gunanya sholat. Mending kita hepi-hepi aja haha. Hari gini mikirin akhirat? Dunia aja kacau, ya ngga?!” sambar teman yang lainnya.
            “Kalian ngga pantas bicara seperti itu. Kalian jangan main-main dengan shalat, kalian juga jangan main-main dengan akhirat. kalian ngga tau kan apa akibatnya nanti?Hah? Ngga tau kan? Tapi kalian sudah seenaknya bicara seperti itu. Allah tuh ngga suka kalian bicara seperti itu, lebih baik aku pindah kelas saja bahkan kalau perlu pindah sekolah daripada aku memiliki teman-teman yang berbicara kasar dan tidak dipikir-pikir dulu seperti itu. Apalagi berbicara tentang shalat. Itu termasuk melencengkan agama.” . Teman-teman yang lain pun hanya menunduk. “Baik, aku akan pergi dan meninggalkan kelas ini. Jika itu membuat kalian hepi.” Tata pun keluar dari kelas dan segera pulang kerumahnya.
            Kini giliran Anna yang berbicara didepan teman-temannya. “Hey semua.. apa kalian ngga mikir ya. Apa yang dikatakan Tata itu benar, tidak seharusnya kita berbicara seenaknya tentang agama. Kalian sudah berdosa. Dan apa kalian juga ngga mikir, kalau Tata pindah dari sini, siapa lagi yang akan membanggakan kelas ini dengan prestasi-prestasi? Kalian kan tau sendiri kalau kelas kita sudah dicap jelek, karena apa? Karena ulah kita. Tata sudah berjuang keras agar kelas kita dicap bagus oleh guru-guru, dan akhirnya dengan usaha ia sendiri, ia bisa membanggakan kelas kita dan membuat semua warga sekolah bertepuk tangan kepada kelas kita. Apa kalian ngga mikir? Tata diperlakukan baik saja oleh kalian ia sudah sangat senang. Namun dengan sikap kalian yang seperti tadi, itu sulit untuk dimaafkan.” . Sanggah Anna pada teman-teman sekelasnya.
            “Lantas, apa yang harus kami lakukan? Kami sungguh tidak berpikir kearah sana.” Jawab temannya yang lain. “Setahu ku, Tata itu sangat menghormati agama, bahkan keluarganya sangat paham akan agama. Jadi sangat sulit untuk membuatnya kembali. Eumm kalau mau kalian harus berjanji dulu bahwa kalian akan menjalankan ibadah kalian dengan sungguh-sungguh sesuai agama yang kalian anut. Mungkin Tata akan merasa dihargai dan setelah itu kalian minta maaf pada Tata dan membuktikan kesungguhan kalian itu.” Balas Anna sambil tersenyum. Teman-teman yang lain pun saling berpandangan dan mengangguk-angguk menyatakan bahwa mereka setuju dengan ide yang Anna berikan. “tunggu.. tapi bagaimana kalau Tata tidak akan kembali ke kelas ini lagi?”tanya salah seorang teman Tata dan juga Anna. “Nanti aku akan mencoba menelponnya dan mengatakan semua yang sudah kita rencanakan. Tapi kalian harus janji dulu, dan tidak akan main-main dengan janji kalian itu!.” Pinta Anna. “Baik kami janji” jawab teman-teman serentak.

Akhirnya kelas tersebut pun kembali tentram. Tata pun tak jadi pindah sekolah dan teman-teman yang lain pun dengan sungguh-sungguh menepati janjinya dengan perasaan yang ikhlas.

Selasa, 07 Januari 2014

Sangat Menyesal, Jeongmal Mianhae



Sungguh Menyesal
Jeongmal Mianhae

“Saat aku merasa sedih, aku pergi ketempat yang sunyi untuk merenung dan menangis sejadinya, hehe.” Begitu ucapan Kim Hwan Do pada sahabatnya Park Hye In.
“Dimana tempat sunyi itu?”
“Hmm mengapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tidak akan sedih kok, karena ada aku disisimu. Aku tidak akan membuat kamu sedih.”
            Kim Hwan Do dan Park Hye In adalah sahabat yang baik semenjak mereka masih kecil, bahkan orang tua mereka pun sangat akrab. Dan jarak rumah mereka pun berdekatan.
Keesokan harinya dimalam hari yang sangat dingin ...
“Kamu mau kemana?” tanya Hwan Do pada Hye In.
“Aku? Aku mau mencari tempat yang sunyi!.”jawab Hye In dengan nada suara agak meninggi.
“Boleh aku ikut?”
Hye In tidak menjawab pertanyaan Kim Hwan Do lalu ia segera pergi dari hadapannya.
Kim Hwan Do POV
Apa yang terjadi dengannya? Mengapa dia tidak menjawab pertanyaaku? Mungkin dia lagi butuh waktu untuk sendiri dan tanpa aku sebagai sahabatnya. Namun aku sangat cemas dengan kepergiannya yang memasang raut wajah murung dan tampaknya sangat sedih sekali. Apa aku harus mengikutinya? Aku takut sesuatu terjadi padanya.
Park Hye In POV
Aku tidak menyangka kalau sahabat baikku akan meninggalkanku. 2 hari lagi dia akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya. Mengapa dia tidak memberitahuku? Sahabat yang jahat. Aku benci dengannya.

                Mobil yang dikendarai Park Hye In melaju sangat cepat, bahkan Hye In sendiri pun tidak bisa mengendalikannya. Hye In merasa dirinya sedang hilang kesadaran. Tiba-tiba ponselnya berdering, ketika Hye In hendak mengambil ponselnya namun ponsel tersebut pun jatuh. Hye In segera mengambil ponsel itu tapi ia takut akan membahayakan keselamatannya, karena posisinya sekarang sedang mengemudi. Akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikan ponsel itu.
Kim Hwan Do POV
Apa yang sedang Hye In lakukan? Mengapa panggilanku tidak dia jawab? Ini sungguh aneh, sebaiknya aku harus mencarinya. Ini sudah larut, aku tidak akan membiarkannya terjadi apa-apa. Akan kucari keberadaannya melalui GPS.

            Saat Hye In melihat sebuah bukit, ia berniat untuk merenung disana dan mengeluarkan kesedihannya disana. Namun sesuatu terjadi pada mobilnya. Mobil yang ia kendarai tidak bisa diberhentikan, remnya blong. Hye In sungguh panik. Benar-benar panik!
“Mengapa? Kenapa dengan remnya? Mengapa tidak mau berhenti?” gerutu Hye In yang sedang kepanikan.
Hye In hanya bisa menangis dan meringkuk ketakutan didalam mobilnya. Ia ingin keluar dari mobil itu, namun sitbelt nya terasa macet dan susah untuk dilepas. Kini Hye In pasrah. Tiba-tiba ia mendengar beberapa kali suara klakson mobil, saat Hye In ingin melihatnya, namun lampu didepannya sangat menyilaukan dan akhirnya terjadilah sebuah tabrakan hebat antara mobil Hye In dengan truk berukuran besar.
“Kini semuanya berakhir. Selamat tinggal dunia! Selamat tinggal mama, papa! Selamat tinggal Kim Hwan Do!.” Seru Hye In kesakitan.
Keramaian terjadi disekitar mobil Park Hye In dan truk besar itu. Mobil polisi mengelilingi mobil Hye In dan ambulance segera berdatangan untuk mengevakuasi korban kecelakaan itu.
Kim Hwan Do POV
Ada apa yang terjadi disana? Begitu ramai sekali. Namun GPS ini menunjukan bahwa keberadaan Hye In ada diantara keramaian itu. Apa mungkin Hye In melihat keramaian itu?
Kim Hwan Do bergegas turun dari mobilnya dan melihat penyebab keramaian itu.
Tiba-tiba, Hwan Do melepaskan GPS yang berada digenggamannya.
“Park Hye In !!!” teriak Hwan Do panik sambil meneteskan banyak air mata.
Saat dirumah sakit, tepatnya diruang UGD ...
Orangtua Hye In dan Hwan Do pun datang bersamaan dan segera menghampiriku yang sedang duduk terkujur kaku dilantai.
“Apa yang terjadi? Mengapa bisa terjadi Hwan Do?” tanya orangtua Hye In dengan sangat khawatir.
“Aku tak tahu” begitu jawabku seadanya.
Dokter pun keluar dari ruang UGD dan hendak memberitahukan sesuatu. Kami segera mendekati dokter itu untuk meminta pernyataannya.
“Ini sangat memprihatinkan. Luka pasien sungguh parah. Dia harus segera dioperasi, kalau terlambat sedetik saja, nyawanya akan melayang.”  Begitu pernyataan sang dokter.
Kami yang mendengarnya langsuung menangis.
“Lakukan apapun yang terbaik ya dok untuk putri kami.” Pinta orangtua Hye In.
“Baik, akan kami lakukan semampu kami.”
Park Hye In POV
Kini aku sangat senang karena aku sudah berada ditempat yang sangat sunyi. Namun aku tidak tahu ada berada dimana sekarang, aku butuh ketenangan. Aku akan mencurahkannya disini, ditempat ini! Apakah aku harus kembali bersama orangtuaku atau tetap berada ditempat yang sunyi ini? Aahh aku tidak butuh jawaban itu sekarang, yang aku butuh hanya sebuah ketenangan. Yaa sebuah ketenangan!.
5 bulan berlalu ...
“Yeobseo..” jawab Hwan Do kepada seseorang yang meneleponnya.
 “Hwan Do apakabarmu disana? Hey, kuliahmu lancar, kan?” tanya ibu Hwan Do yang berada jauh dari anaknya.
“Ya ibu, aku baik. Kuliahku juga lancar. Ibu tak perlu khawatir.”
“Oh iya bu, bagaimana keadaan Hye In? Apakah dia sudah sadar dari komanya?” sambung Hwan Do.
“Hye In? Dia sudah sadar seminggu yang lalu. Namun keadaannya masih agak kurang baik.”
“Yang benar? Hye In sudah sadar? Syukurlah. Kenapa ibu tidak memberitahuku? Kenapa ibu baru memberitahuku sekarang?”
“Maafkan ibu, Hwan Do. Ibu tidak ingin mengganggu belajar kamu. Sekali lagi ibu menyesal.”
“Kalau begitu, aku akan pulang besok, untuk menemui Hye In.”
“Tapi kuliahmu bagaimana?”
“Aku akan izin dulu, yang terpenting aku harus melihat kondisi Hye In. Oke bu sudah dulu ya, Hwan Do harus segera berangkat ke kampus. Bye.”
Belum ibunya menjawab salam perpisahannya, Hwan Do sudah menutup teleponnya.
Kim Hwan Do POV
Setelah sekian lama aku menunggu kamu sadar, akhirnya kamu sadar juga dari tidur panjangmu. Aku tidak sabar ingin melihatmu. Park Hye In, tunggu aku yaa!.
Park Hye In POV
Sebenarnya aku sangat mengharapkanmu untuk menemuiku, melihat kondisiku. Namun itu hanya keinginanku saja. Mungkin kamu sudah menemukan cintamu. Hah? Apa mungkin aku menyukainya? Ah tidak, aku tidak boleh menyukainya. Aku dan Hwan Do hanya bersahabat, tidak lebih. Aku harus menghargai persahabatan ini.
“tok tok tok ...”
Seseorang disana mengetuk pintu kamar Hye In. Ia berharap itu Hwan Do, atau kabar tentang Hwan Do.
“Ibu..” serunya.
“Hey putriku. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik?” tanya ibu Hye In yang sangat perhatian padanya.
“Iya bu, aku merasa sudah agak membaik.”
“Eumm.. tadi ibu Hwan Do bilang sama ibu, kalau besok Hwan Do akan pulang ke Seoul untuk melihat kondisimu.” Jelas ibu pada putrinya.
Aku yang mendengarnya tersentak kaget.
“Hah? Benar bu? Aku senang sekali ia akan kesini, aku merindukannya.”
Ibu hanya tersenyum tipis melihat tanggapan darinya.

Keesokan paginya..
Saat aku membuka mata dari tidurku, tiba-tiba seseorang menyapaku.
“Selamat pagi Nona.” Begitu sapa orang itu.
Park Hye In segera mengucek-ngucek mata dan memastikan siapa orang yang menyapanya.
Ia terkejut. “Kim Hwan Do!!”
Hwan Do tersenyum senang saat Hye In menyebut namanya.
“Kamu? Kapan kamu kesini? Aku benci denganmu.”
Tanggapan Hye In sangat membuat Hwan Do merasa sedih, mengapa Hye In membenci dirinya?
“Aku kesini sangat pagi sekali, demi melihatmu. Tapi kau malah membenciku. Apa salahku?” balas Hwan Do.
“Karena waktu itu kamu tidak memberitahuku bahwa kamu akan pergi ke Amerika. Sahabat macam apa kamu.”
“sungguh, tentang hal itu. Aku tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba orangtuaku mengatakan bahwa aku harus melanjutkan belajarku di Amerika pada saat kau sedang tidak sadarkan diri. Pada saat kau koma! Bagaimana aku harus mengucapkan salam perpisahan padamu kalau kau sedang tidak sadar diri? Sebenarnya pada saat itu, aku bingung harus memilih yang mana. Apakah aku harus disini menjagamu dan menemanimu atau aku harus pergi belajar di Amerika sesuai perintah orangtuaku. Kalian berdua adalah orang yang aku sayangi.” Cerita Hwan Do panjang lebar.
Hye In yang mendengar pernyataan dari Hwan Do merasa bersalah.
“Maaf, aku menyesal. Sungguh aku tidak tahu tentang hal itu.” Jawab Hye In yang merasa menyesal.
            Ketika mereka sudah berlama-lama bermain, saling bertukar cerita. Merekapun tampak kelelahan dan akhirnya tertidur.
Hwan Do tidak ingin meninggalkan Hye In sendirian, ia akan menemani Hye In.
Pada saat Hwan Do tertidur, Hye In menyempatkan diri untuk menulis sebuah surat. Entah surat apa yang harus ia tulis.

Selesai Hye In menulis surat itu, Lalu Hye In menyimpan surat tersebut dibawah bantalnya. Dan membiarkannya sampai ia meninggal nanti.
Ia pun tertidur dengan lelapnya.
Pada saat pagi harinya, kami bercanda-canda lagi, Park Hye In sungguh senang namun bercampur sedih.
“Aku kedapur dulu ya, ingin mengambilkan sarapan untukmu.” Begitu kata Hwan Do yang sungguh baik padanya.
Gadis itu hanya mengangguk dan membiarkannya pergi.
Pada saat Hwan Do pergi, dada Hye In terasa sesak sekali, ia kesusahan untuk bernafas. Detak jantungnya seakan mau berhenti. Bahkan ia sulit untuk berteriak, seperti ada yang menahannya.
“Kenapa denganku?”gumam gadis itu dalam hati.
Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi.
            Beberapa menit kemudian Hwan Do datang dan ia panik. Pria itu pun segera berteriak minta tolong. Tak lama kemudian orangtua Hye In datang.
“Ada apa Hwan Do?” tanya orangtua Hye In padanya.
“Oom, tante. Apa yang terjadi pada Hye In? Mengapa dia diam saja dan terkujur kaku seperti ini?”
“Hye In, kamu kenapa? Hye In...... bangun nak bangun!” desis sang ibu,
“Ayo kita bawa ke rumah sakit saja.” Sambung sang ayah yang juga ikut panik.
Kami pun bergegas kerumah sakit, Hwan Do juga telah mengabarkan tentang Hye In kepada orangtuanya. Dan mereka juga akan menyusulnya kerumah sakit.
            Setibanya mereka semua di rumah sakit, Hye In langsung dibawa oleh perawat yang ada disana untuk menuju ke ruang Unit Gawat Darurat.
Setelah berlama-lama mereka menunggu, dokter pun keluar dari ruang UGD itu dengan wajah yang sangat murung.
“Maaf, pak, bu. Sepertinya pasien tidak bisa diselamatkan. Karena pada saat dibawa kemari, kondisi pasien sudah tidak bernyawa. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Seru sang dokter.
Kami semua menangis tersedu-sedu, mengapa Hye In meninggalkan kami secepat itu? Diusianya yang masih muda pula?
Kim Hwan Do POV
Mengapa kamu meninggalkanku secepat itu? Apa aku begitu tidak berartinya untukmu? Bahkan aku belum mengungkapkan sesuatu padamu, bahwa aku menyukaimu. Kamu tega sekali padaku. Kamu melukaiku!.
Pemakaman pun telah usai, kini tinggalah Kim Hwan Do seorang diri dimakam gadis yang ia sukai itu. Pria itu terus meneteskan airmata dan segera pulang kerumahnya.
Saat Hwan Do telah sampai dirumahnya, tiba-tiba orangtua Hye In mengunjungi rumah Hwan Do dan mencari keberadaannya. Hwan Do yang pada saat itu sedang mengurung dirinya dikamar tiba-tiba keluar kamar hendak menemui orangtua Park Hye In.
“Ada apa oom, tante?”
“Maaf nak, tadi saat tante sedang membereskan kamar Hye In, tante tidak sengaja menemukan ini dibawah bantalnya. Disitu tertulis untuk kamu. Jadi tante tidak berani untuk membacanya.” Jelas ibu Park Hye In sambil memberikan sebuah surat kepada Hwan Do.
“Terimakasih tante.”
 “Ya, Oom dan tante pulang dulu ya.”
Kim Hwan Do hanya mengangguk seadanya.
Saat pria itu membaca surat dari Hye In, tertulis ...
Untuk Kim Hwan Do
Seoul, 2 Maret 2014.
Kim Hwan Do, aku sangat menyesal telah melakukan hal bodoh. Saat malam itu, aku pergi meninggalkanmu untuk mencari tempat yang sunyi, aku ingin merenung seperti yang biasa kau lakukan saat kau sedang sedih. Aku ingin mencurahkan semua kesedihanku, kesedihan tentang kepergianmu. Aku tidak menyangka bahwa ternyata kamu sendiri tidak tahu menahu tentang kepergianmu untuk belajar di Amerika. Waktu itu aku mendengar orangtuamu dan orangtuaku sedang membicarakan suatu hal diruang keluarga rumahku. Kebetulan pada saat itu aku melihatnya, dan aku berniat mendengarkan secara sembunyi-sembunyi tentang apa yang mereka bicarakan. Sekilas aku mendengar kalau kau ingin disekolahkan diluar negeri, aku sangat stres. Jika kamu pergi dari sisiku, aku akan kesepian. Aku tidak punya sahabat! Maka pada malam hari itu juga aku mengabaikanmu, aku menyesal tidak membiarkanmu ikut denganku ketempat yang sunyi, karena aku tahu kalau kamu bisa menghiburku disana. Tapi disisi lain, aku sangat senang karena kamu tidak ikut denganku dan tidak mengalami sebuah kecelakaan yang teramat sangat menakutkan itu.
            Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tiada, aku sudah meninggalkan dunia yang indah ini! Aku sudah meninggalkanmu. Dan yang perlu kamu tahu, sebenarnya aku menyukaimu sejak kita masih kecil. Maaf baru mengatakannya sekarang, karena aku takut kalau aku akan mengganggu konsentrasimu dalam belajar. Selamat tinggal Kim Hwan Do, jaga dirimu baik-baik. Aku disini selalu menyayangimu.

Sahabatmu,
Park Hye In
Kim Hwan Do yang membaca surat itu langsung menangis sejadinya dan beranjak pergi kesebuah tempat yang sunyi untuk meluapkan semuanya.
Kim Hwan Do POV
Baik, aku akan menjaga diri baik-baik dan aku sudah memaafkanmu. Jadi kau juga jangan khawatirkan aku yah. Sebenarnya aku juga menyukaimu, tapi aku butuh waktu untuk menyatakannya. Saat aku ingin mengatakannya, kamu malah pergi meninggalkan aku. Aku sangat kecewa, namun aku bahagia karena kamu sudah berada jauh disana dan tidak merasa sedih lagi. Aku juga sayang kamu!.

Senin, 04 November 2013

Cara agar dirumah tidak membosankan

Kali ini saya mau berbagi jika saya sedang liburan dirumah, bete, ga ngapa-ngapain.Bagi yg mau tau, ayo bacaa ^^

Kalo saya sendiri sih kalo lagi liburan dirumah, dan ga ada kegiatan yg menyenangkan mending saya dengerin musik dengan menggunakan earphone dan sediakan MP3 ya. dan ga lupa siapin laptop, yg pastinya bisa buka internet, dan kita bisa browsing ataupun chat ^^ ataupun nih kalo yg ga bisa buka internet, bisa setel dvd yg kita suka (tapi yg baik-baik ya) . Jadi kan :D itulah yg saya lakukan kalau liburan dirumah membosankan.
Ceritakan juga saat liburanmu disini ;;)
Comment yaaaa!!

Jumat, 18 Oktober 2013

Kata-Kata Menarik dari Novel Glam Girls

Kali ini saya akan menampilkan beberapa kata-kata yg menarik dalam novel glam girls terutama pada sub bab nya, walaupun novel tersebut keluaran tahun 2009 namun saya adalah salah satu pengemar novel tersebut :D hehe ,dan maaf saya baru sempat menampilkannya sekarang. happy reading ^^
1. It's not true that life is one damn thing after another; it is one damn thing over and over.
2. Observe your enemies, for they first find out your faults.
3. Stupid is forever, ignorance can be fixed.
4. The enemy is anybody who's going to get you killed, no matter which side he's on.
5. Know your self and you will win all battles.
6. Nowhere on your birth certificate did it say life would be fair.
7. Life is a zoo in a jungle.
8. Football is the ballet of the masses.
9. Everything should  be made as simple as possible, buut not one bit simpler.
10. From every wound there is a scar, and every scar tells a story. A story that says, I survived.
11. "If you don't concede any goals you'll win more games than you lose."
12. When you are down and out, something always turns up-and it is usually the noses of your friends.
13. I learned that is is the weak who are cruel, and that gentleness is to be expected only from the strong.
14. It's always too soon to quit.
15. Facts are not science-as the dictionary is not literature.
16. Don't be afraid of change. You may end up losing something good, but you will probably end up gaining something better.
17. What do I wear in bed? Why, chanel No.5 of course. 
18. Fashion is what you adopt when you don't know who you are.
19. When trouble comes, they come not in single spies but in batallions.
20. All you need is trust and a little bit of pixie dust!
21. Try not. Do, or do not. There is no try.
22. Every woman should have four pets in her life. A mink in her closet,  a jaguar in her garage, a tiger in her bed, and a jackass who pays for everything.
23. Success is the ability to go from failure to failure without losing your enthusiasm.
24. You must be the change you wish to see in the world.
25. You may not always end up where you thought you were going, But you will always end up where you were meant to be.
26. You have brains in your head. You have feet in your shoes. You can steer yourself any direction you choose. You're on your own, and you know what you know. And you are the one who'll decide where you'll go. Oh the place you'll go.
27. Sometimes we're our own worst enemy.
28. If it's meant to be, things have a way to working up.
29. Those have most power to hurt us that we love.
30. We only hear what we want  to hear, we only see what we want to see. Until reality hits.
31. Say what you want and be who you are because those who mind don't matter and those who matter don't mind.
32. Always listen to your heart, cause even though it's on your left, it's always right.
33. Everything is okay in the end. If it's not okay, then it's not the end.

Okey, itu adalah kata-kata yg terdapat dalam sub-bab pada novel glam girls. sekian dulu kiriman kali ini Thank you~